Berita : PWM Jawa Tengah


Rozihan: "Rahasia Bangun Malam"

Rabu, 14-08-2012

Ketika sengatan matahari yang sangat perih dirasakan, lebih-lebih oleh orang yang bergelimang dosa sampai-sampai ada di antara mereka yang keringatnya menenggelamkan badan sendiri, kemudian rasa takut menyelimuti setiap jiwa manusia, mereka saling pandang. Manusia mencari siapa yang dapat diandalkan untuk memohon kepada Allah agar situasi yang mencekam dan sengatan matahari nan perih itu dapat dielakkan.
Mereka pergi kepada nabi Adam, Nuh, Ibrahim, dan Musa serta Isa. Tetapi, semua nabi mulia itu menolak.dan menyebut dosa masing masing sambil berkata; ’’Nafsi nafsi ( diriku sendiri, diriku sendiri ) kecuali Nabi Isa yang juga menolak tanpa menyebut dosa. Akhirnya mereka menuju ke Nabi Muhammad dan dengan singkat beliau memohon kepada Allah, “Tuhanku, umatku umatku.”
Hadis itu dilansir oleh Bukhari Muslim melalui Abu Hurairah tentang suasana kemelut di Padang Mahsyar. Rasulullah yang tak pernah absen bangun malam (qiyam al lail) untuk salat tahajud ditempatkan oleh Allah pada posisi yang sangat mulia (maqam al mahmud) sehingga dapat membebaskan umatnya dari penderitaan yang mencekam pada hari kebangkitan kelak.
Shalat tahajud yang familier dengan sebutan qiyam al lail mempunyai relasi dengan posisi kemuliaan (maqam al mahmud). Ibadah ekstra ini ditawarkan Allah kepada siapa saja yang bersedia mengerjakan. Allah akan menjamin posisi mulia itu. Karena dalam ilmu ushul fiqh, kata  ’asa dalam Surat al Isra’ ayat 79 bagi Allah mengandung arti kepastian.
Sebelum Muhammad, telah hadir Nabi Musa as. Musa adalah putra Imran, rasul yang diutus untuk Bani Israil. Musa lahir dalam keadaan yatim sekitar seribu lima ratus tahun sebelum Isa. Musa —musuh Firaun sang penindas Bani Israil—memperoleh anugerah kitab suci Taurat yang menjadi petunjuk bagi Bani Israil setelah bermunajat kepada Yang Maha Kuasa selama empat puluh malam (QS Al Baqarah 51).
Malam, terjemahan kata al lail atau lailan merupakan sebuah misteri. Dalam teks suci keagamaan dikatakan bahwa Tuhan turun ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir. Itu adalah isyarat limpahan rahmat bagi manusia yang ingin minta sesuatu, ampunan, doa atau segala kebutuhan hidup di dunia. Ketika malam, suasana mendukung kekhusyukan dalam berdoa dan shalat. Dalam suasana yang penuh kekhusyukan itu, maka kehadiran limpahan rahmat Allah mudah diperoleh.
Turunnya rahmat bagi Zakaria, nabi suci yang disebut oleh Alquran sebagai manusia lanjut usia dengan istri mandul, yang secara logika tidak mungkin mempunyai keturunan namun akhirnya dianugerahi anak, juga terjadi malam hari. Tetapi, bagi Tuhan sang pemilik kehidupan tidak ada yang mustahil.
Nabi Zakaria, pemuka agama Yahudi yang dalam Perjanjian Lama disebutkan menikah dengan wanita bernama Elisabeth, selama tiga malam tidak berbicara kepada siapa pun kecuali dengan Allah hanya untuk meminta keturunan (QS. Maryam 10). Pada saat kritis dan darurat itu, Tuhan tidak pernah mengecewakan hamba-Nya.
Allah mengabulkan doa Zakaria denga cara yang tidak terjangkau oleh nalar manusia (min ladunka), yakni berupa kelahiran seorang putra bernama Yahya.
Para malaikat memohon izin kepada Tuhan untuk turun ke dunia agar mereka bisa menyaksikan amalan makhluk bumi pada ’’malam kekuasaan’’ atau lailatul qadr. Hanya di bumi, orang yang punya kelebihan berbagi rezeki dengan yang kekurangan. Hanya di bumi para malaikat menyaksikan para pendosa merintih dan menyesali kesalahan. Di langit tidak ada rintihan karena malaikat adalah makhuk yang disucikan.
Malam memang misterius. Kepada kita yang tertindas atau tidak, kepada kita yang pada posisi kritis atau tidak, bangun malam untuk shalat tahajud atau qiyamul lail adalah pilihan terbaik. Malam merupakan waktu yang paling dekat antara manusia dengan sang pencipta, berdialog dengan istighfar mencari solusi kehidupan, dan menyatu dengan para malaikat yang disucikan. Semua itu agar kita menjadi manusia mulia yang berhati bersih ketika berhadapan dengan kaum muslimin. Hati yang di dalamnya tidak ada prasangka, tidak ada kecurigaan, dan tidak ada kebencian. Bangun malam untuk qiyamul lail memang berat, tapi perlu dibiasakan.
(Drs. Rozihan, SH, M.Ag, Dosen FAI Unissula Semarang dan Wakil Ketua PW. Muhammadiyah Jawa Tengah. Artikel ini juga dimuat di Harian Suara Merdeka)